Kamis, 12 Januari 2012

Upacara Turun Mandi di Minangkabau


Upacara Turun Mandi di Minangkabau

Malangkah di ujuang pedang, basilek di pangka karih
Kato salalu baumpamo, rundiang selalu bakiasan.
Kata-kata di atas adalah salah satu mustika berhagra milik Minangkabau lewat petatah-petitih dan masih banyak lagi kekayaan Minangkabau melalui upacara-upacara adat, kesenian serta motif adat. Alam Minangkabau memang menarik untuk dipelajari, karena alam Minangkabau menyimpan berbagai macam mustika yang dapat dijadikan pengangan hidup dan pelajaran. Alam takambang jadai guru adalah dasar dari alam Minangkabau dengan tidak mengesampingkan syarak (agama).
Kita akan mengupas sedikit dari kekayaan alam Minangkabau dari sisi upacara adat turun mandi. Saya telah mewawancarai beberapa orang narasumber yang memang asli pribumi  Minangkabau. Pertama, nenek yang sudah paroh abat, Nurleka. Sebangai orang yang dituakan di kampung Taratak Bukareh, Solok Selatan ia menceritakan seluk beluk upacara turun mandi dari awal sampai akhir. Sebagai orang yang dituakan di kampung itu, tentu anga sebutan akrap nenek tua itu tentu telah merasakan asam garam serta pahit manisnya kehidupan di Minangkabau. Dari mulutnyalah aku mendapatkan banyak informasi tentang upacara turun mandi, setelah aku bertanya berulang kali dengan pertanyaan yang sama. Kedua Sardani, seorang yang sudah berkepala lima. Ketiga, Dodi. Seorang pemuda di kampungku. Dari merekalah aku bisa bercerit banyak sedikitnya tentang salah satu mutiara yang dimiliki oleh masyarakat Minang ini, upacara turun mandi.
Upacara turun mandi adalah upacara yang masih mendarah daging sampai saat ini oleh masyarakat Minangkabau. Upacara turun mandi adalah upacara untuk mengucapkan syukur atas nikmat yang tak ternilai dari Allah. Upacara turun mandi merupakan ritual untuk mensyukuri nikmat Allah (berupa bayi) yang baru lahir. Upacara ini juga merupakan sunnah rasul dan memperkenalkan kepada masyarakat bahwa telah lahir keturunan baru dari sebuah suku atau keluarga tertentu. Dalam pelaksaanan upacara ini, harus memperhatiakan syarat-syarat yang telah kental di masyarakat Minang.
Upacara turun mandi harus di laksanakan di sungai (batang aie) dan tidak boleh dilakukan hanya dengan membawa air ke halaman rumah tanpa ke sungai.  Yang membawa anak ini dari rumah ke sungai adalah orang yang berjasa membantu proses persalinan (dukun yang manjawek). Orang-orang biasanya menggunakan istilah itu, tapi sekarang sudah canggih mungkin bidan atau dokter yang menolong proses melahirkan tersebut. Upacara turun mandi ini dilakukan dengan cara mengkondisikan keadaan ibu, apabila  sudah kuat si ibu yang melahirkan maka sudah boleh dilakukan upacara ini. Bagi yang ingin melakukan upacara ini maka ibu dan anak yang baru lahir tidak boleh dulu keluar dari rumah. Upacara turun mandi inilah pertama kalinya bagi si bayi untuk melihat lingkungan dan masyarakat sekitar.
Banyak lagi syarat-syarat yang harus disiapkan sebelum upacara turun mandi ini diselenggarakan. Pertama, batiah bareh badulang beras yang digoreng, pop corn kalau itu jagung. Batiah ini bertujuan untuk dibagikan kepada anak-anak kecil yang pergi mengikuti upacara turun mandi ini. Kalau upacara ini diselenggarakan biasanya banyak anak-anak kecil yang ikut melihat, maka sebagai ucapan terimakasih dan memperkelalkan bagi dengan teman-teman itu kelak. Kedua, sigi kain buruak (obor yang terbuat dari kain-kain yang telah robek). Sigi ini dibakar dari rumah dan dibawa ke tempat upacara atau ke sengai tempat anak itu akan dimandikan. Sigi kain buruak ini memiliki makna jikok kalam basigi, jikok licin batungkek yaitu mengajarkan kepada bagi bahwa jika kelak telah besar nanti tidak ada satu hambatanpun dalam menuntut ilmu (dunia dan akhirat). Ketiga, Tampang karambia tumbua (bibit kelapa yang siap tanam). Setelah sampai di tempat upacara anak ini dimandikan lalu bibit kelapa tadi dihanyutkan dari atas lalu ditangkap oleh ibunya setelah kelapa tersebut mendekati anak. Ini bermakna manyambuik semangat anak yang tasirok (terkejut) karena dinginnya air sungai. Setelah pulang kelapa ini ditanam dan inilah nanti menjadi bekal hidup si anak kelak. Keempat, Tangguak alat yang digunakan untuk menangkap ikan. Simbol tangguak melambangkan juga untuk bekal ekonomi si bayi kelak (tangguak rasaki). Tangguak ini untuk meletakkan syarat yang kelima, yaitu batu yang diambil dari sungai sebanyak tujuh buah. Nanti batu ini bersama syarat lainnya (tampang karambia,) dimasukkan ke dalam tangguak dan dibawa pulang. Batu inilah yang dimasukkan kedalam lubang tempat karambia ditanam. Batu ini juga berfunggsi sebangai panjawek semangat anak dan untuk persiapan ekonomik anak kelak.
 Karena begitu kentalnya kebudayaan minangkabau maka satu syarat lagi tidak boleh terlupakan, yaitu palo nasi (nasi yang terletak paling atas) yang telah dilumuri dengan arang serta daran ayam. Dua syarat ini bertujuan untuk mengusin setan, makluk halus yang ingin ikut meramaikan upacara tersebut. Syarat ini disiapkan sebanyak tiga cawan atau bejana. Dua untuk diletakkan dijalan menuju sungai yang jaraknya sudah diatur dan disesuaikan, satu dibawa ke sungai tempat upacara berlangsung. Buliah nak jan tasapo kecek urang awak.
Itulah rangkaian upacara adat turun mandi. Setelah itu maka rombongan yang pergi kembali kerumah dan diberi makan. Tentu dengan hidangan yang menggugah selera. Memang Minangkabau adalah sebuah kebudayaan tinggi yang tak lakang dek paneh, tak lapuak dek hujan sebagai ciri bangsa Indonesia yang memiliki heterogen  kebudayaan dari Sabang sampai Meraoke.
 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar